Kenduri Benyamin Sueb Ingatkan Betawi

25 September 2017

SENIMAN serbabisa Benyamin Sueb memang telah berpulang. Raganya melebur bersama tanah, tapi tidak dengan karya-karyanya. Buah karya Benyamin kental dengan rasa Betawi yang lugas. Di tanah kelahirannya, sejumlah tokoh serta budayawan Betawi berupaya menghidupkan kembali ‘roh’ Benyamin.

Upaya tersebut dilakukan lewat kegiatan Kendoeri Kampoeng Kema­joran. Tahun lalu diadakan pada Desember, tahun ini merupakan kegiatan yang kedua kalinya yang digelar pada 23-34 September bertempat di area Patung Ondel-Ondel Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Hajat bertema Betawi cinta budaya bangsa itu menghadirkan karya-karya Benyamin Sueb serta kesenian budaya Betawi.

Sosok Benyamin menyihir pe­ngunjung. Kelompok band Betawi memainkan lagu-lagu yang dipopulerkan almarhum Benyamin Sueb. Meski merupakan musik lawas, lagu-lagu tersebut tetap enak didengar. Sejumlah pengunjung tak sadar bergoyang dan menirukan lagu Benyamin.

Apalagi kala band Betawi Se­rendo mendapat kesempatan kedua menyanyikan lagu Jakarta Kebanjiran. Pengunjung bernyanyi bersama. Irama dan aransemen musik disesuaikan dengan ge­nerasi milineal.

Uniknya, meski kebanyakan datang dari usia muda, pengunjung hafal dengan lirik lagu ciptaan Benyamin Sueb yang tengah dimainkan. Sosok Benyamin juga banyak diabadikan pada kaus-kaus yang sengaja dijual di tengah acara Kendoeri.

“Kegiatan ini diselenggarakan untuk mengenang almarhum Haji Benyamin Sueb yang memberikan kontribusi pada dunia seni dan hiburan di Indonesia, khususnya masyarakat Jakarta,” kata Ahmad Sueb, penyelenggara Kendoeri Kampoeng Kemajoran II.

Acara ini, lanjut Bang Davi, sapaan akrab Ahmad Sueb, bertujuan menjawab keresahan yang ada di sebagian tokoh dan masyarakat Betawi sebagai ‘tuan rumah’ di kota metropolitan atas minimnya ruang serta lokasi bagi orang Betawi dalam berkebudayaan. “Selain memberikan penghargaan kepada almarhum Benyamin, acara seni dan hiburan yang disajikan bertujuan memberikan alternatif sebuah pergelaran budaya Betawi dan Nusantara dengan konsep yang berbeda,” jelas Davi.

Pemilihan Kemayoran, khususnya area di sekitar Patung Ondel-Ondel Jalan Benyamin Sueb, mengingat sejak zaman dulu Kemayoran sudah menjadi pusat kegiatan serta memiliki arti khusus pada perkembangan Kota Jakarta serta kebudayaan Betawi. “Banyak tokoh Betawi yang ada di Kemayoran. Kita juga akan terus coba melestarikan dan memusatkan kegiatan budaya Betawi di sini.”

Kini, warga Betawi memiliki sejumlah agenda mengenal dan melestarikan budaya mereka. Di Jakarta Selatan, ada Lebaran Betawi yang biasa digelar di Situ Babakan. Di Jakarta Timur, ada Festival Condet. Sekarang, Jakarta Pusat dengan Kendoeri Kampoeng Kemajoran. (Deni Aryanto/J-3)

sumber:http://www.mediaindonesia.com

foto : MI/ARYA MANGGALA